AlzamTour.com – Di tengah meningkatnya penggunaan sistem pembayaran digital, Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) mengimbau seluruh biro travel haji dan umrah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kejahatan siber.
Imbauan tersebut disampaikan oleh Mohammad Fandy Abdillah, Koordinator Wilayah HIMPUH DIY dan Jawa Tengah, usai mengikuti kegiatan sosialisasi bertema “Membangun Kapasitas untuk Menghadapi Ancaman Risiko Keamanan Digital Sistem Pembayaran” yang digelar Bank Indonesia (BI) di Hotel Tentrem Yogyakarta, Selasa (11/11/2025).
💻 Jangan Sembarangan Berbagi Data Pribadi
Menurut Fandy, banyak kasus penipuan bermula dari kelalaian kecil seperti memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak dikenal.
“BI mengingatkan agar kita tidak mudah membagikan data pribadi seperti KTP, nomor rekening, PIN, atau kode OTP. Banyak penipuan digital berawal dari hal sederhana seperti phising,” jelasnya.
Ia juga menyarankan agar para pelaku usaha travel haji dan umrah rutin mengganti password minimal setiap tiga bulan sekali, serta segera melapor ke contact center BI di 110 jika menemukan transaksi mencurigakan.
🧠 Peningkatan Literasi dan Keamanan Sistem Pembayaran
Fandy menambahkan, HIMPUH terus mendorong para anggotanya agar meningkatkan literasi digital dan keamanan transaksi. Beberapa biro sudah menggunakan sistem pembayaran yang terenkripsi dan terintegrasi, namun edukasi rutin tetap diperlukan agar seluruh pelaku industri siap menghadapi risiko kejahatan siber.
“Sosialisasi dari BI kemarin membuka wawasan kita tentang pentingnya standar keamanan digital. Ini harus jadi budaya kerja di seluruh travel,” ujarnya.
🤝 Sinergi Travel, Regulator, dan Penegak Hukum
Lebih lanjut, Fandy menilai bahwa menjaga keamanan transaksi digital membutuhkan sinergi kuat antara travel, regulator, dan aparat hukum. Nilai transaksi di sektor haji dan umrah yang besar membuat sektor ini sangat rentan terhadap penipuan.
“Transaksi di industri kita besar nilainya. Kalau salah langkah, dampaknya bisa fatal — bukan cuma secara finansial, tapi juga reputasi terhadap jamaah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar biro travel tidak mudah tergiur oleh tawaran harga murah dari pihak luar tanpa verifikasi dokumen atau rekam jejak mitra bisnis.
“Sebaiknya transaksi dilakukan bertahap sambil memastikan legalitas mitra,” imbuhnya.
🛡️ Empat Tips Aman Versi HIMPUH
Fandy kemudian membagikan empat langkah praktis untuk mencegah kebocoran data dan penipuan digital di sektor haji dan umrah:
- Jangan bagikan data pribadi atau data jamaah kepada pihak yang tidak berkepentingan.
- Edukasi staf secara berkala tentang SOP keamanan dan etika penggunaan data.
- Verifikasi semua penawaran dan mitra kerja sebelum melakukan transaksi besar.
- Gunakan layanan pelaporan BI atau pihak berwenang jika menemukan aktivitas mencurigakan.
🌐 Harapan HIMPUH
Fandy berharap kegiatan edukasi seperti ini bisa digelar secara rutin di seluruh daerah agar para pelaku travel semakin siap menghadapi era digital.
“Kami berharap BI dan pemerintah terus mengadakan sosialisasi ringan tapi efektif. Ini penting agar semua pelaku travel punya sistem pembayaran yang aman dan jamaah tidak dirugikan,” pungkasnya.



