Boyolali, 15 Juli 2025 — Di tengah hiruk-pikuk masa muda yang identik dengan pendidikan dan pencarian jati diri, Dian Mamora Miftakhul Firdaus, remaja 18 tahun asal Boyolali, Jawa Tengah, justru menapaki perjalanan spiritual yang luar biasa: menunaikan ibadah haji. Keberangkatannya ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan religius, tetapi juga penunaian janji suci sang ayah yang telah wafat.
Warisan Janji dari Sang Ayah
Ayahnya, almarhum Parjo, telah mendaftar haji bersama istrinya pada tahun 2012. Namun takdir berkata lain. Sebelum sempat menunaikan rukun Islam kelima itu, Parjo meninggal dunia pada 2023. Porsi hajinya kemudian dilimpahkan kepada putranya, Mamo, sapaan akrab Dian Mamora, pada Agustus 2024.
Tanpa kendala administrasi, proses pelimpahan berjalan lancar. Mamo pun akhirnya berangkat bersama sang ibu melalui Kloter 79 Embarkasi Solo (SOC) pada 25 Mei 2025.
Dari Bengkel ke Tanah Suci
Dian Mamora baru saja lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ia dikenal sederhana dan memiliki hobi membenahi sepeda motor. Keberangkatan haji ini awalnya membuatnya ragu.
“Iso ora yo aku engko nglakoni kui kabeh?”
(Bisa tidak ya saya menjalani itu semua?),
kenangnya saat pertama kali ditunjuk sebagai pengganti ayahnya.
Namun berkat restu ibu dan dorongan keluarga, Mamo mantap melangkah sebagai wakil sang ayah.
Badal Umrah sebagai Tanda Bakti
Tak hanya berhaji, Mamo juga melaksanakan badal umrah untuk ayah dan neneknya, sesuai amanah yang diberikan oleh ibundanya.
“Engko badalke umrah nggo Simbah karo Bapak yo, Le.”
(Nanti badalkan umrah untuk Simbah dan Bapak ya, Nak),
pesan ibunya, yang ia jalankan dengan penuh keikhlasan.
Inspirasi untuk Generasi Muda: Daftar Haji Sejak Dini
Menurut Gentur Rachmawan, Humas PPIH Embarkasi Solo, kisah Dian Mamora seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda. Dengan masa tunggu haji di Jawa Tengah yang telah mencapai 32 tahun, mendaftar sejak usia muda sangat dianjurkan agar calon jemaah masih memiliki kekuatan fisik (istitha’ah) saat waktunya tiba.
“Semakin muda mendaftar, semakin besar peluang berangkat dalam kondisi sehat dan prima,” ungkap Gentur di Asrama Haji Donohudan.
Kesimpulan: Haji Tak Mengenal Usia
Dian Mamora adalah bukti nyata bahwa panggilan haji tidak mengenal usia. Di usia belia, ia mengemban tanggung jawab besar dan membuktikan bahwa cinta, bakti, dan keimanan mampu menuntun seseorang menjadi tamu Allah di Baitullah.



