Madinah, 29 Juni 2025 — Di bawah terik mentari siang Madinah, suasana di kawasan transit pavilion Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) dipenuhi semangat pelayanan. Ribuan jemaah haji terus berdatangan, sebagian bersiap kembali ke tanah air. Di tengah hiruk pikuk tersebut, sebuah pemandangan menyentuh hati terpampang nyata — seorang petugas haji dengan sigap mengendong jemaah lansia yang kesulitan turun dari bus.
Sosok itu adalah Muh Ma’mur, ASN dari Kementerian Agama Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara. Ia tergabung dalam Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daker Bandara, sektor pelayanan jemaah di Bandara Jeddah dan Madinah.
“Bismillah…” dan Semangat yang Tak Pernah Redup
Setiap kali mengendong jemaah, Ma’mur selalu mengawali dengan kalimat yang menenangkan hati: “Bismillah.” Ia mengaku bahwa setiap beban yang dipikulnya terasa ringan berkat niat tulus dan doa yang ia panjatkan.
“Alhamdulillah, semuanya terasa ringan,” ucap Ma’mur, Minggu (30/6/2025), sembari mendorong kursi roda menuju pavilion pemeriksaan dokumen.
Meski tidak berbadan tegap, Ma’mur dikenal sebagai petugas yang totalitas. Dari membantu jemaah naik-turun bus, mobil golf, hingga memindahkan mereka ke ruang tunggu bandara, semua dijalani tanpa pamrih. Bahkan saat bertugas di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), ia tetap hadir sebagai tangan penolong jemaah yang memerlukan dukungan fisik.
Bukan Satu, Tapi Banyak Sang Pengendong Duyufurrahman
Ma’mur hanyalah satu dari deretan pahlawan tanpa tanda jasa di balik layar operasional haji. Bersama dirinya, ada para personel Pelindungan Jemaah (Linjam) seperti Yoyok, Abdul Rohim Rahmat, Eko Bunawi, Jajang Supena, Andi Irawan, serta pelaksana kedatangan dan kepulangan, Iwan Syarif (Bonex).
Di antara mereka juga terdapat sosok perempuan inspiratif seperti Hartati, tenaga pendukung mukimin di Arab Saudi, yang bertugas bersama tim lintas shift demi memastikan pelayanan jemaah berjalan lancar hingga akhir.
Tantangan Shift dan Keterbatasan Fasilitas
Petugas bandara dibagi dalam tiga shift:
- Shift 1: pukul 08.00 – 16.00 WAS
- Shift 2: pukul 16.00 – 00.00 WAS
- Shift 3: pukul 00.00 – 08.00 WAS
Perjalanan 30 menit menuju bandara setiap hari ditempuh dengan coaster. Tak ada waktu santai—bahkan makan siang dan malam dilakukan di dalam mobil, karena aturan bandara melarang petugas makan di area dalam.
Meski demikian, semangat pengabdian tetap terjaga. Tak ada keluhan, yang ada hanyalah keteguhan hati untuk melayani Duyufurrahman, tamu-tamu Allah, di penghujung fase pendorongan gelombang dua di Bandara Madinah.
“Ada kebahagiaan yang tak bisa diucapkan, tapi sangat menyentuh hati… saat selesai mengendong dan membantu jemaah,” tutur Ma’mur haru.



