Kepala Urusan Keagamaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syaikh Dr. Abdulrahman bin Abdulaziz As-Sudais, mengingatkan para jamaah agar tidak menganggap remeh aturan dan ketertiban di dua masjid suci. Beliau menegaskan, menaati peraturan di Haramain bukan sekadar bentuk kedisiplinan, melainkan bagian dari ibadah kepada Allah Ta’ala.
“Menaati peraturan keamanan, menjaga ketertiban, serta mengikuti arahan aparat dan petugas merupakan ibadah dan bentuk pendekatan diri kepada Allah,” ujar Syaikh Sudais, dikutip Jumat (7/11).
🌙 Disiplin Adalah Cermin Ketakwaan
Menurut Syaikh Sudais, kepatuhan terhadap aturan adalah kunci dalam menjaga keselamatan jiwa sekaligus menghormati kesucian tempat ibadah. Ia menambahkan bahwa pemerintah Arab Saudi telah memberikan perhatian luar biasa kepada para tamu Allah — baik jamaah umrah maupun peziarah Masjid Nabawi.
Beliau menekankan pentingnya ketakwaan yang diwujudkan melalui ketaatan terhadap seluruh peraturan yang berlaku di kawasan suci.
“Peraturan itu bukan untuk membatasi, melainkan untuk mewujudkan kepentingan umum dan menjamin keselamatan semua pihak,” tegasnya.
🕊️ Keamanan Haramain Adalah Amanah Bersama
Dalam pesannya, Syaikh Sudais mengingatkan bahwa keamanan dua masjid suci merupakan garis merah yang tidak boleh dilanggar. Menjaga ketertiban di Haramain berarti ikut serta dalam menjaga kehormatan dan stabilitas Tanah Suci.
“Menjaga keamanan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi merupakan kewajiban syar’i sekaligus tanggung jawab bersama,” tuturnya.
Beliau juga berharap agar setiap jamaah, baik umrah maupun haji, berpartisipasi aktif menjaga suasana damai dan khusyuk di tempat-tempat mulia tersebut.
🌟 Pesan untuk Jamaah Umrah dan Haji
Pesan Syaikh Sudais ini menjadi pengingat penting bagi jamaah Indonesia yang akan berangkat ke Tanah Suci. Disiplin dan menaati aturan bukan hanya mencerminkan akhlak mulia, tapi juga menjadi bagian dari penghormatan terhadap rumah Allah.
Dengan memahami hal ini, setiap langkah jamaah di Haramain bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan wujud nyata dari ketaatan, kesadaran, dan cinta kepada Allah Ta’ala.



