PT. Alzam Amanah Baitullah
alzamtour.com

Mulai Januari 2026, Pemerintah Perketat Pengawasan Kesehatan Jemaah Haji Selama 3 Bulan Pra-Keberangkatan

Alzamtour — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan bahwa manasik kesehatan untuk calon jemaah haji 1447 H/2026 M akan mulai digelar pada Januari 2026. Program ini semakin dipertegas karena seluruh proses seleksi petugas haji telah selesai, sehingga tenaga kesehatan dapat fokus melakukan pembinaan dan pemantauan jemaah.

Manasik Kesehatan Dimulai Januari 2026

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa durasi manasik kesehatan tahun ini memang lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Namun, intensitas dan peran tenaga kesehatan justru jauh lebih besar.

“Manasik kesehatan tahun ini relatif lebih singkat. Paling nanti mulai Januari,” ujar Dahnil saat menghadiri acara Perdokhi di Sentul, Bogor.

Menurutnya, daftar jemaah yang berhak berangkat telah diumumkan sejak November–Desember. Kondisi ini memungkinkan dokter untuk segera memulai pembinaan dan pemeriksaan menyeluruh.

“Januari itu artinya dokter akan banyak terlibat untuk mengawasi kesehatan jemaah,” tambahnya.

Pengawasan 3 Bulan oleh Dokter Haji

Dahnil menegaskan bahwa pengawasan kesehatan jemaah dilakukan selama tiga bulan penuh sebelum keberangkatan. Langkah ini mencakup pemantauan kebiasaan jemaah, seperti:

  • Pembiasaan jalan kaki
  • Pola makan sehat
  • Latihan fisik agar siap menghadapi puncak haji di Armuzna
  • Pemantauan kondisi komorbid

“Para dokter akan melakukan pengawasan terus-menerus selama 3 bulan. Mulai dari tertib jalan kaki, menjaga makanan, dan berbagai pembiasaan fisik lainnya,” jelasnya.

Ia mengibaratkan proses ini seperti melatih atlet yang sedang persiapan menghadapi turnamen besar, mengingat beratnya rangkaian ibadah haji.

Evaluasi Kasus Kematian Jemaah: Bukan Hanya Faktor Usia

Kemenhaj menaruh perhatian besar pada tingginya angka kematian jemaah haji Indonesia. Pada penyelenggaraan haji 2025, jemaah Indonesia menyumbang 50 persen dari total jamaah yang wafat di Tanah Suci.

“Tingkat kematian jemaah kita tinggi sekali, dan lebih tinggi dibanding negara lain,” kata Dahnil.

Ia menekankan bahwa tingginya angka kematian bukan disebabkan oleh usia lanjut semata. Banyak jemaah yang sebenarnya tidak layak berangkat karena kondisi kesehatan tertentu, namun tetap lolos karena dokumen medis yang menyatakan sehat.

“Banyak orang sebenarnya sakit dan tidak pantas berangkat, tapi bisa berangkat karena dokumennya bilang sehat,” ungkapnya.

Pemeriksaan Kesehatan Diperketat dari Hulu

Dahnil menyebut bahwa peningkatan kualitas pemeriksaan kesehatan awal adalah langkah utama untuk menekan risiko jamaah sakit maupun wafat selama pelaksanaan haji.

Dengan pengawasan ketat selama tiga bulan, pemerintah berharap kondisi fisik jemaah lebih siap sehingga risiko kesehatan menurun secara signifikan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

wpChatIcon
wpChatIcon
Scroll to Top