Film Hijra, yang berarti perjalanan atau ziarah, menghadirkan pengalaman sinematik yang membawa penonton menjelajah Arab Saudi bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara spiritual dan emosional. Disutradarai sineas ternama Saudi Shahad Ameen, film ini menampilkan wajah Kerajaan yang jarang terlihat di layar internasional: berlapis sejarah, kaya budaya, dan sarat kemanusiaan.
Shahad Ameen sebelumnya dikenal lewat film fantasi Scales yang menjadi perwakilan Arab Saudi untuk Oscar 2020. Melalui Hijra, ia kembali mengusung kisah personal yang beresonansi universal.
Kisah Ziarah yang Berubah Menjadi Perjalanan Jiwa
Cerita Hijra mengikuti perjalanan Sitty, seorang nenek, bersama dua cucunya dalam perjalanan ziarah. Ketika salah satu cucu menghilang di tengah perjalanan, Sitty dan cucu bungsunya, Janna, memulai pencarian yang perlahan berubah menjadi proses refleksi diri, penyembuhan luka, dan pemaknaan hidup.
Film ini awalnya dirancang sebagai kisah pencarian seorang ayah dan anak. Namun, produser Mohammed Al-Daradji mengusulkan pendekatan road movie agar cerita bisa menyatu dengan bentang alam Arab Saudi sekaligus memperkuat dimensi spiritualnya.
“Hijra merepresentasikan banyak bentuk migrasi — perjalanan Sitty dan Janna, hijrah Nabi Ibrahim, hingga makna haji itu sendiri,” jelas Al-Daradji.
Ziarah sebagai Tema Universal
Meski berjudul Hijra dan berlatar ibadah, film ini tidak dibatasi oleh sekat agama atau budaya. Shahad Ameen menegaskan bahwa ziarah adalah pengalaman universal.
“Kita semua sedang menempuh perjalanan hidup masing-masing, mencari makna dan penebusan,” ujar Ameen.
“Penonton terhubung bukan hanya dengan lanskap Saudi, tetapi dengan emosi dan perjalanan batin para karakter.”
Pesan ini diperkuat lewat karakter Ahmed, sang sopir, yang awalnya tampak egois dan materialistis. Seiring perjalanan, hubungan emosionalnya dengan Janna membangkitkan kembali sisi kemanusiaannya.
Perjalanan Tumbuh dan Menemukan Jati Diri
Aktris Lamar Faden yang memerankan Janna menggambarkan film ini sebagai kisah pertumbuhan.
“Janna memulai perjalanan sebagai anak yang rapuh dan bingung. Namun sepanjang perjalanan, ia menemukan suaranya sendiri dan mulai memimpin. Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang ziarah, tapi tentang menemukan siapa diri kita sebenarnya,” tuturnya.
Menampilkan Wajah Arab Saudi yang Berbeda
Hijra juga menantang stereotip visual tentang Arab Saudi. Shahad Ameen dengan sengaja menampilkan keragaman lanskap — dari gurun, pegunungan, hutan, hingga salju di wilayah Tabuk.
“Arab Saudi bukan hanya gurun,” tegas Ameen.
“Di bulan Februari, salju turun di A’lqan. Kami bahkan menyesuaikan jadwal syuting berdasarkan prakiraan salju, dengan panduan warga lokal.”
Pengalaman ini juga dirasakan langsung para pemain yang menempuh perjalanan darat dari selatan hingga utara Saudi, tinggal di tenda dan karavan, menyatu dengan alam dan masyarakat setempat.
Hospitalitas dan Budaya Lokal
Aktor Nawaf Al-Dhufairi mengenang pengalaman syuting di Wadi Al-Far’, ketika kru sempat mengira mobil mereka diserang warga setempat.
“Ternyata mereka mengundang kami ke jamuan makan,” kenangnya sambil tertawa.
“Kameramen asing kami sampai berkata, ‘Hospitalitas di sini luar biasa.’ Saya bangga melihatnya.”
Pengakuan Internasional
Film Hijra mendapat sambutan positif saat diputar di Venice Film Festival dan kemudian dipilih sebagai perwakilan resmi Arab Saudi untuk Academy Awards.
Bagi Shahad Ameen, kepercayaan tersebut memiliki makna mendalam.
“Saya merasa terhormat kembali mewakili negara saya,” katanya.
“Bahwa komunitas perfilman Saudi percaya film ini bisa membawa wajah Kerajaan ke dunia internasional, itu sangat berarti.”
Penutup
Hijra bukan sekadar film perjalanan, melainkan refleksi tentang hijrah manusia — berpindah, bertumbuh, dan mencari makna. Dari gurun hingga salju, dari luka hingga penebusan, film ini mengajak penonton menyusuri Arab Saudi dengan cara yang jujur, manusiawi, dan penuh rasa.



