PT. Alzam Amanah Baitullah
alzamtour.com

Penutup Sejarah Panjang Pengelolaan Haji oleh Kemenag

Setelah mengabdi selama lebih dari tujuh dekade, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) Kementerian Agama resmi menutup perannya dalam pengelolaan ibadah haji Indonesia. Musim haji 2025 menjadi penanda akhir pengabdian tersebut, sekaligus momentum transisi menuju pengelolaan haji oleh Kementerian Haji dan Umrah mulai tahun 2026.

Sebagai penanda pamitan, Ditjen PHU meluncurkan sebuah buku dokumentasi sejarah bertajuk Haji Indonesia Era Kementerian Agama, yang memuat perjalanan panjang pengelolaan haji Indonesia sejak tahun 1950.

Buku Monumental 2.300 Halaman

Buku setebal 2.300 halaman tersebut diperkenalkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag di Tangerang Selatan, Selasa (16/12/2025). Karya monumental ini diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal PHU Hilman Latief kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, serta Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin.

Hilman menyebut buku tersebut sebagai bentuk syukur atas keberhasilan penyelenggaraan haji terakhir oleh Kemenag.

“Kami bersyukur haji terakhir sukses dilakukan Kemenag. Tahun depan, pelaksanaan haji diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah,” ujar Hilman.

Haji 2025: Tantangan Terberat, Hasil Membanggakan

Menurut Hilman, penyelenggaraan haji 2025 menjadi salah satu fase paling menantang sepanjang sejarah Ditjen PHU. Kompleksitas kebijakan, dinamika layanan di lapangan, hingga tuntutan peningkatan kualitas pelayanan menjadi ujian besar di tahun terakhir pengabdian.

Meski demikian, tantangan tersebut berbuah hasil positif. Penyelenggaraan haji Indonesia 2025 disebut mendapatkan apresiasi tinggi dari Pemerintah Arab Saudi, dengan indeks kepuasan jemaah yang meningkat dan masuk kategori sangat memuaskan.

Disusun Cepat dengan Standar Akademik

Penyusunan buku sejarah ini dikoordinasikan oleh Sekretaris Ditjen PHU M Arfi Hatim bersama tim akademisi dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten. Menariknya, proses penulisan dilakukan dalam waktu relatif singkat, tak lama setelah musim haji berakhir.

M Arfi Hatim menyebut buku ini sebagai salah satu karya paling komprehensif tentang haji Indonesia.

“Ini boleh jadi merupakan buku paling tebal tentang haji Indonesia yang isinya komprehensif,” ujarnya.

Penyusunan buku menggunakan standar akademik dengan basis sumber primer Kemenag dan referensi kredibel. Proses penyuntingan melibatkan Hadi Rahman serta Oman Fathurahman, filolog terkemuka yang juga dikenal sebagai editor buku Naik Haji di Masa Silam.

Tiga Jilid, Satu Kesatuan Sejarah

Buku Haji Indonesia Era Kementerian Agama terdiri dari tiga jilid utama, yaitu:

  • Jilid I – Dari Masa ke Masa, memuat narasi kronologis penyelenggaraan haji sejak 1950 hingga 2025
  • Jilid II – Ekosistem dan Kebijakan, membahas dinamika kebijakan haji secara tematik dan argumentatif
  • Jilid III – Adaptasi dan Inovasi, merekam perjalanan transformasi dan inovasi layanan haji Indonesia

Ketiga jilid tersebut disusun dengan sudut pandang berbeda, namun saling melengkapi sebagai satu kesatuan utuh.

Penutup Era, Awal Babak Baru

Dengan terbitnya buku memori ini, Ditjen PHU Kemenag secara simbolik menutup bab panjang pengelolaan haji Indonesia. Buku tersebut diharapkan menjadi pegangan, rujukan, dan memori kolektif bagi Kemenag, perguruan tinggi keagamaan, serta para pemangku kepentingan di bidang haji dan umrah.

Estafet pengelolaan haji kini bersiap berpindah ke kementerian baru, menandai babak baru penyelenggaraan ibadah haji Indonesia di masa mendatang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

wpChatIcon
wpChatIcon
Scroll to Top