Jeddah – Menteri Agama sekaligus Amirul Hajj, Nasaruddin Umar, kembali menekankan pentingnya kehati-hatian bagi jemaah haji yang berniat melaksanakan umrah sunnah di tengah cuaca ekstrem di Tanah Suci. Peringatan ini disampaikan menyusul laporan suhu yang mencapai 52 derajat Celsius, yang telah menyebabkan penurunan kondisi kesehatan pada banyak jemaah.
Jangan Paksakan Diri, Prioritaskan Kesehatan
Dalam pernyataannya di Jeddah pada Selasa (17/6/2025), Menag Umar mengimbau agar jemaah tidak memaksakan diri untuk berulang kali melakukan umrah. “Ada yang umrahnya sampai 20 atau bahkan 25 kali,” ujarnya, menyoroti praktik berlebihan yang dapat membahayakan kesehatan. Ia menegaskan bahwa umrah adalah ibadah sunnah dan tidak perlu dilakukan secara berlebihan, terutama jika dapat mengganggu perjalanan haji secara keseluruhan.
“Jangan sampai nanti ada gangguan di sepanjang perjalanan mereka, semuanya kembali pada diri mereka sendiri,” tegas Menag, menekankan tanggung jawab pribadi jemaah dalam menjaga kondisi fisik.
Peran KBIHU dan Akomodasi Nyaman
Menteri Agama juga meminta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) untuk tidak mengajak jemaah, khususnya yang usia lanjut, untuk memaksakan diri dalam melaksanakan umrah sunnah. Kesejahteraan dan kesehatan jemaah harus menjadi prioritas utama.
Terkait fasilitas, Menag Umar memastikan bahwa akomodasi di Madinah, termasuk hotel-hotel di wilayah Markaziyah, telah diperiksa untuk memudahkan jemaah berjalan kaki ke Masjid Nabawi dan tempat ibadah lainnya. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kelelahan jemaah akibat transportasi.
Hemat Tenaga, Jaga Kemabruran Haji
Selain umrah sunnah, jemaah, terutama lansia, juga diimbau untuk tidak memaksakan diri mengikuti aktivitas seperti Arba’in atau kegiatan jalan-jalan jika kondisi kesehatan mulai menurun. Energi dan stamina harus dihemat mengingat perjalanan pulang ke Indonesia yang panjang dan membutuhkan kondisi prima.
Menutup pernyataannya, Menag Nasaruddin Umar mengajak seluruh jemaah untuk terus merawat kemabruran haji dan umrah. “Mari kita bertekad mempertahankan kemabruran yang sudah dicapai. Apa yang kita capai dengan pengorbanan dan usaha ini harus dijaga agar haji kita tetap bermakna, khususnya dalam perubahan karakter setelah pulang ke tanah air,” pungkasnya.



