Peluang Ekonomi di Balik Arus Jemaah Indonesia
Besarnya jumlah jemaah haji dan umrah asal Indonesia tidak hanya berdampak pada sektor pelayanan ibadah, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang sangat luas. Melihat potensi tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mendorong Industri Kecil dan Menengah (IKM) nasional agar terlibat aktif dalam ekosistem penyelenggaraan haji dan umrah.
Keterlibatan IKM diarahkan pada pemenuhan berbagai kebutuhan jemaah, mulai dari pangan halal, perlengkapan ibadah, hingga produk pendukung perjalanan lainnya yang selama ini memiliki permintaan tinggi.
Indonesia Penyumbang Jemaah Terbesar Dunia
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kontribusi jemaah haji terbesar di dunia. Pada 2024, porsi jemaah Indonesia mencapai sekitar 10–11 persen dari total 1,8 juta jemaah global.
“Indonesia menjadi kontributor terbesar ibadah haji dunia, sekaligus penyumbang jemaah umrah dengan tingkat antusiasme yang terus meningkat,” ujarnya dalam kegiatan Business Matching Sektor IKM di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (17/12/2025).
Kolaborasi Lintas Sektor Dibuka Lebar
Untuk mempercepat keterlibatan IKM, Kemenperin membuka kolaborasi lintas sektor dengan Kementerian Haji, perusahaan travel haji dan umrah, perbankan penerima setoran, hingga pelaku ritel. Langkah ini ditujukan agar IKM nasional dapat masuk langsung ke dalam rantai pasok kebutuhan jemaah.
Produk yang disiapkan pun sangat beragam, mencakup:
- Makanan dan minuman halal
- Obat-obatan dan produk kesehatan
- Kosmetik dan personal care
- Perlengkapan ibadah
- Busana muslim dan modest fashion
- Koper dan tas perjalanan
- Perlengkapan hotel
“Penguatan kemitraan ini bukan semata urusan bisnis, tetapi juga bagian dari amanat regulasi nasional untuk membangun industri yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” jelas Reni.
Puluhan IKM Siap Ambil Bagian
Dalam kegiatan temu bisnis tersebut, lebih dari 45 pelaku IKM dari berbagai subsektor dilibatkan, mulai dari pangan, batik, kain ihram, mukena, alas kaki, hingga kosmetik dan industri kimia.
Reni menambahkan, peluang besar ini sejalan dengan jumlah penduduk muslim Indonesia yang mencapai 244,4 juta jiwa pada 2024. Selain itu, jumlah jemaah haji Indonesia dalam dua tahun terakhir konsisten berada di atas 200.000 orang, bahkan menembus 241.000 jemaah pada 2024.
Tren Umrah Terus Meningkat
Tak hanya haji, pertumbuhan jemaah umrah juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus, jumlah jemaah umrah meningkat dari 1 juta orang pada 2022 menjadi 1,4 juta orang pada 2024.
“Kebutuhan dasar seperti pangan halal, produk kesehatan, kosmetik dan personal care, perlengkapan ibadah, serta modest fashion menjadi elemen penting dalam mendukung kelancaran perjalanan ibadah,” ungkap Reni.
Menperin: Produk Lokal Punya Nilai Ekonomi dan Ibadah
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai industri nasional telah memiliki kapasitas produksi, kualitas, dan sertifikasi yang memadai untuk mengisi kebutuhan layanan haji dan umrah.
Menurutnya, jika kebutuhan jemaah dipenuhi oleh produk dalam negeri, maka manfaat ekonominya akan kembali ke Indonesia melalui penguatan industri dan penciptaan lapangan kerja.
“Ekosistem haji dan umrah memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Ketika produk nasional menjadi bagian dari rantai pasoknya, dampaknya akan langsung dirasakan oleh perekonomian nasional,” ujar Agus.
Ia bahkan menekankan bahwa penggunaan produk lokal oleh penyelenggara maupun jemaah memiliki nilai ibadah tersendiri.
“Selain pahala ibadah haji atau umrah, ada pahala tambahan karena ikut melindungi industri dalam negeri dan para pekerja Indonesia,” tambahnya.



