Madinah, 3 Juli 2025 — Di balik hiruk-pikuk pelayanan jemaah haji gelombang kedua yang hendak pulang ke Tanah Air melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah, terdapat sebuah kisah sederhana namun penuh makna. Bukan tentang teknologi canggih atau infrastruktur megah, melainkan tentang “Kafe Coaster” — ruang rehat darurat yang menjadi penyelamat tenaga dan semangat bagi para petugas haji.
Meski hanya berupa coaster putih yang terparkir di area parkir Paviliun 5 bandara, kendaraan ini telah menjelma menjadi tempat berkumpul dan berbagi energi di tengah rutinitas melelahkan. Para petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Bandara menyebutnya dengan penuh kasih: Kafe Coaster.
Lebih dari Sekadar Kendaraan: Simbol Kebersamaan dan Perjuangan
Tidak ada mesin espresso atau etalase roti. Kafe Coaster adalah simbol sederhana yang menyatukan para petugas haji di sela-sela tugas padat mereka. Setiap hari, mereka melayani hingga 7.000 jemaah haji. Maka, keberadaan “kafe” ini menjadi tempat jeda yang sangat berarti.
Setiap kali muncul pesan di WhatsApp:
“Assalamualaikum. Makan siang, kopi pahit, teh manis, dan air dingin sudah siap di Paviliun 5…”
…para petugas pun tahu, inilah waktunya mengisi tenaga dan berbagi cerita.
Dapur Berjalan dan Pelayanan Bergilir
Kafe Coaster terdiri dari dua kendaraan: mini van sebagai dapur berjalan dan coaster besar ber-AC tempat menyantap makanan. Di dalamnya, hingga 20 petugas duduk berhimpitan, tertawa, dan saling menguatkan.
Empat nama jadi motor penggerak kafe ini: Misbah, Heri, Munakip, dan Narullah. Mereka bukan sekadar sopir atau petugas logistik, tetapi tulang punggung dari sistem dukungan internal yang membuat operasional layanan haji tetap stabil.
“Kopinya, Pak? Teh manis, Bu?” ujar Munakip, menyuguhkan cangkir demi cangkir ke hangat tangan para petugas yang lelah.
Ketegasan Aturan vs Solidaritas Tim
Dengan larangan makan dan minum di areal pelayanan, Kafe Coaster menjadi satu-satunya ruang makan sah yang terjangkau. Bahkan, ketika petugas keamanan bandara meminta mobil bergeser, Heri dengan sabar mengemudikan coaster, lalu kembali ke titik awal setelah situasi memungkinkan.
Harga makanan yang tinggi di bandara dan terbatasnya akses membuat konsep “kafe darurat” ini tak hanya logis secara logistik, tapi juga penting secara sosial.
Kebersamaan yang Tak Tergantikan
Kepala Daker Bandara, Abdul Basir, menyebut Kafe Coaster sebagai fasilitas penting yang menjaga energi dan koordinasi tim.
“Ini bukan sekadar tempat makan. Ia adalah pusat logistik emosional yang menjaga semangat dan kerja tim tetap selaras,” jelas Basir.
Efisiensi waktu, kesigapan, dan solidaritas — itulah nilai utama yang ditanamkan dalam rutinitas para petugas haji melalui ruang kecil bernama Kafe Coaster.
Warisan Tak Kasat Mata: Kenangan yang Akan Dikenang Selamanya
Saat semua tugas selesai dan petugas kembali ke Tanah Air, bukan gedung-gedung besar atau bandara megah yang akan dikenang paling kuat, tetapi sebuah kendaraan sederhana yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
“Kafe Coaster ini akan menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan oleh segenap petugas bandara,” pungkas Basir.



